BPBD KAB MAGETAN

Tag: BPBD KABUPATEN MAGETAN

Tingkatkan Kapasitas BPBD Magetan Gelar Pelatihan Water Rescue


Magetan – Kepala BPBD Magetan Ari Budi Santosa, SH, MM., secara resmi membuka kegiatan pelatihan water rescue, di Embung Pendem, Kec Ngariboyo pada Selasa (15/11).

Melalui bidang kedaruratan dan logistik BPBD Magetan menggelar Pelatihan water rescue yang dilaksanakan 2 (dua) hari hingga Rabu (16/11). Pelatihan ini merupakan bentuk upaya meningkatkan kapasitas Tim Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana Kabupaten Magetan.


Dalam pelatihan ini diikuti oleh anggota TRC-PB BPBD, TNI dan Polri. Peserta yang berjumlah 40 orang mendapatkan materi water rescue dan materi management operasi SAR oleh Basarnas Pos Sar Trenggalek.

Turut hadir dalam pembukaan pelatihan, Kasi Kedaruratan dan Logistik Eka Wahyudi, S.sos serta Forkopimca Kecamatan Ngariboyo.

APEL GELAR PASUKAN PESIAPAN MENGHADAPI BENCANA PADA MASA PERALIHAN DAN AWAL MUSIM HUJAN 2022/2023

Kabupaten Magetan – Pemerintah Kabupaten Magetan menggelar apel gelar pasukan dan peralatan penanggulangan bencana secara serentak dalam rangka antisipasi menghadapi bencana alam menjelang musim penghujan tahun 2022 pada Kamis (13/10). Kegiatan ini merupakan salah satu respon pemerintah Kabupaten Magetan dalam mengantisipasi potensi bencana hidrometeorologi yang disebabkan faktor cuaca.

Kegiatan apel gelar pasukan dan peralatan penanggulangan bencana secara serentak ini dilakukan di halaman Polres Magetan dipimpin oleh Bupati Magetan. turut hadir, Kapolres Magetan, Komandan Kodim Magetan, Perwakilan Lanud Iswahjudi, dan Kepala Kejaksaan.

Dalam kesempatan ini, apel diikuti personel yang terdiri dari anggota TNI/Polri, BPBD, Dinkes, Dinsos, Satpol PP dan Damkar, Dishub, PLN, Polhut, PMI, PDAM, Potensi Relawan serta peralatan yang digunakan untuk penanganan bencana alam antara lain kendaraan Ambulance, kendaraan evakuasi korban, mobil air bersih, genset darurat, perahu karet, tenda darurat BPBD dan tenda dapur umum Dinsos.

Kegiatan gelar apel siaga banjir dan kesiapan pasukan serta peralatan penanggulangan bencana ini diharapkan dapat digunakan dan diimplementasikan untuk mempercepat penanganan tanggap darurat bencana.

Linmas Desa Jajar Berperan dalam Kesiapsiagaan Bencana

Upaya meningkatkan kapasitas anggota Linmas dalam kesiapsiagaan bencana, Pemerintah Desa Jajar Kecamatan Kartoharjo mengadakan pelatihan di Aula Balai Desa Jajar Kecamatan Kartoharjo pada sabtu (1/10).

Dalam giat ini turut hadir Forkopinca Kecamatan Kartoharjo, BPBD Kab Magetan memberikan materi serta praktek Pertolongan Pertama Gawat Darurat yang bertujuan untuk memberikan wawasan dasar kepada peserta pelatihan sekaligus usaha-usaha yang dapat dilakukan pada kondisi gawat darurat bencana sebagai upaya penyelamatan pertama pada korban bencana atau musibah, sebelum mendapat pertolongan yang lebih lanjut oleh dokter atau petugas kesehatan.

 

Sekolah Luar Biasa Negeri Karangrejo yang Tangguh Bencana

SLB Negeri Karengrejo Magetan adalah sekolah luar biasa pertama yang mewujudkan pendidikan aman bencana melalui program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) di Kabupaten Magetan.

Upaya mewujudkan pedidikan aman bencana melalui program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magetan terlibat memfasilitasi program SPAB pada Senin (19/7) sampai Rabu (21/7) di aula SLB Negeri Karengrejo Magetan. Bagi fasilitator, hal ini merupakan tantangan tersendiri. Terutama ketika berhadapan dengan anak-anak yang berkebutuhan khusus.

Tidak hanya warga sekolah saja yang dilibatkan tetapi juga melibatkan perwakilan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), perwakilan guru SLB lain serta masyarakat sekitar lokasi sekolah. Dengan tujuan untuk menyebarkan serta mendapatkan komitmen semua pihak terkait pelaksanaan SPAB.

Dipandu oleh fasilitator, mereka membuat peta ancaman, peta kerentanan, dan peta kapasitas, yang merupakan alat untuk menghasilkan peta evakuasi sekolah. Selanjutnya warga sekolah berproses dalam penyusunan rencana aksi dan pembentukan tim siaga bencana, pembuatan prosedur tetap tanggap darurat bencana sekolah, peta jalur evakuasi, serta titik kumpul. Setelah itu, dilaksanakan simulasi kesiapsiagaan sekolah yang disesuaikan dengan jenis bencana yang berisiko tinggi disekolah berdasarkan hasil kajian risiko bencana.

 Terdapat beberapa catatan penting yang diperoleh oleh Fasilitator selama pelaksanaan program ini, antara lain:

  • SLB Negeri Karangrejo dapat   menunjukkan keseriusan dan atensi yang besar dalam konteks penanggulangan bencana.
  • Anak-anak berkebutuhan khusus juga tidak kalah dalam berpartisipasi dalam proses penanggulangan bencana di sekolah.
  • Anak-anak berkebutuhan khusus dan bapak ibu guru dapat menjadi agen PRB di lingkungan keluarga dan tutor sebaya bagi komunitas di lingkungan tempat tinggal.

Senang rasanya bisa berbagi pengetahuan dan belajar bersama warga sekolah SLB Negeri Karangrejo. Kebahagiaan tersendiri adalah ketika melihat anak-anak berkebutuhan khusus memahami cara evakuasi mandiri, pada saat simulasi.

Setiap tahapan jika dilaksanakan dengan baik, akan berdampak luar biasa baik untuk peningkatan pengetahuan, wawasan, serta membantu sekolah dalam membuat kebijakan pengurangan resiko bencana dan tetap berupaya melakukan rencana tindak lanjut dengan kontinuitas.

Rakor Satgas Pengendalian Karhutla Kabupaten Magetan

Magetan – Luas wilayah Kabupaten Magetan termasuk wilayah terkecil ke-2 se Provinsi Jawa Timur namun Kabupaten Magetan memiliki resiko bencana alam hidrometereologi yang tinggi seperti banjir, banjir bandang, cuaca ekstrim, tanah longsor, gempa bumi, kekeringan dan kebakaran hutan.

Memasuki musim kemarau Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Magetan menggelar Rapat Koordinasi Tim Satgas Kebakaran Hutan dan Lahan Kabupaten Magetan, Selasa (30/8) di Pendapa Surya Graha.

Rakor dipimpin oleh Hj. Nanik Endang Rusminiarti, M. Pd selaku Wakil Bupati Magetan menekankan bahwa pentingnya air sebagai sumber kehidupan masyarakat magetan menjadi faktor penting seluruh tim satgas karhutla perlu mencegah terjadinya karhutla di wilayah Kabupaten Magetan.

Dalam pemaparannya Wakil Bupati Magetan juga menjelaskan penanganan karhutla tidaklah mudah karena kondisi medan, maka pentingnya penyadaran kepada masyarakat yang beraktifitas di hutan dan petani penggarap hutan rakyat untuk tidak melakukan pembakaran dalam membuka lahan pertanian serta terus meningkatkan koordinasi, kerjasama antara pemerinta, dunia usaha, kelompok komunitas masyarakat, akademisi dan media.

Dalam rakor ini juga turut hadir Dandim, Kapolres, Administratur KPH Lawu Ds Madiun.

Sosialisasi dan Simulasi Penanggulangan Bencana Puskesmas Sukomoro

BPBD Kabupaten Magetan – Kecamatan Sukomoro masuk dalam daerah rawan bencana yang ada di Kabupaten Magetan, hal tersebut melandasi Puskesmas Sukomoro menggelar Sosialisasi dan Simulasi Penanggulangan Bencana pada hari ini Selasa 26 Juli 2022.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magetan menjadi narasumber dalam sosialisasi dan simulasi penanggulangan bencana yang di ikuti oleh 50 orang peserta dari Karyawan Karyawati Puskesmas Sukomoro, Forkopinca, Perwakilan Desa dan Perwakilan Dunia Usaha Kecamatan Sukomoro.

Dalam paparannya Kepala Puskesmas Sukomoro Ibu Siswiantining, mengatakan kesiapan dalam penanggulangan bencana sangat penting bagi setiap karyawan karyawati Puskesmas Sukomoro agar ketika bencana terjadi dapat mengetahui apa yang harus dilakukan.

“Pemahaman terkait penanggulangan bencana gempa bumi dan bencana yang berpotensi di Kecamatan Sukomoro seperti angin kencang sangat penting, agar kami tau apa yang kita lakukan ketika bencana terjadi” kata Siswiantining saat pembukaan sosialisasi dan simulasi penanggulangan bencana yang berada di Ruang Pertemuan Puskesmas Sukomoro.

PEMKAB MAGETAN MENDUKUNG POS PENYEKATAN MOBILITAS HEWAN TERNAK, UPAYA MENEKAN PENYEBARAN PMK

Sebagai upaya menekan pertumbuhan virus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan ternak di wilayah Provinsi Jawa Timur, Pemprov Jawa Timur melalui BPBD Jawa Timur melakukan pengetatat mobilitas hewan ternak dengan mendirikan Pos Pengamanan Terpadu Pengendalian Penanganan PMK di titik masuk wilayah Provinsi Jawa Timur.

Adapun hewan ternak dan produk hewan yang termasuk dalam pengendalian posko adalah hewan ternak ruminansia dan babi, serta produk hewan rentan PMK, seperti, daging segar dan kulit.

Kabupaten Magetan termasuk dalam titik masuk wilayah Provinsi Jawa Timur terletak di Kecamatan Plaosan. Pemkab Magetan melalui BPBD Magetan, Disnakan, TNI, Polri, Dishub, Pol PP dan pihak terkait mendukung upaya tersebut.

Hasil laporan tim BPBD Magetan mencatat secara keseluruhan mobilitas hewan. Selama penyekatan berlangsung mulai 5 Juli 2022 hingga 15 Juli 2022 tidak terdapat hewan ternak yang terindikasi PMK.

MENYEMARAKKAN HKB 2022, DESA NGELANG KECAMATAN KARTOHARJO SIAP SELAMAT DARI BENCANA BANJIR

Hujan yang berlangsung dengan intensitas tinggi selama 7 jam yang terjadi di wilayah Kecamatan Kartoharjo, Selasa (26/4) pukul 09.30 WIB membuat air sungai sidodai Desa Ngelang meluap pada level waspada.

Ketua Tim Siaga Bencana (TSB) Desa Ngelang mengerakkan TIM TSB dan berkoordinasi dengan Kepala Desa Ngelang untuk langkah yang diambil kemudian menginformasikan kepada Pusat Pengendali Operasi (Pusdalops) Badan Penangggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magetan melalui radio HT terkait peningkatan air sungai sidodadi dan untuk meningkatkan status dari normal ke status waspada.

Dari informasi tersebut, Pusat Pengendali Operasi (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magetan membunyikan Early Warning Sistem (EWS) Banjir dan meningkatkan status dari normal menjadi waspada. kemudian Tim Siaga Bencana (TSB) Desa Ngelang memberikan himbauan kepada warga desa agar bersiap dan mengamankan barang berhaga namun tetap tenang dan jangan panik.

Gambaran dari peristiwa di atas adalah rangkaian dari simulasi kesiapsiagaan warga Desa Ngelang, Kecamatan Kartoharjo menghadapi bencana banjir dalam kegiatan peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) 2022 bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magetan.

Kegiatan HKB 2022 ini digelar secara serentak di seluruh Indonesia tentunya Kabupaten Magetan. Kegiatan yang diperingati setiap tanggal 26 April dilakukan sebagai upaya meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pengetahuan dan pemahaman resiko bencana, menumbuhkan budaya sadar bencana serta melatih ketrampilan cara-cara yang tepat dalam menyelamatkan diri.

Menurut ketua TIM Pelaksana HKB 2022 Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magetan sekaligus Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Suparman, dari hasil penilaian tingkat ancaman bencana banjir di Kabupaten Magetan yang menunjukkan hasil bahwa potensi ancaman banjir cukup tinggi di Desa Ngelang, Kecamatan Kartoharjo, Kabupaten Magetan. Sehingga dari hasil tersebut dilakukan upaya peningkatan kapasitas kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi Bencana Banjir.

“Potensi ancaman Bencana Banjir di Desa Ngelang cukup tinggi ketika terjadi musim penghujan,” jelas Suparman Selasa (26/4)

Dalam hal ini, Suparman berharap diselenggarakannya kegiatan ini dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait pentingnya sadar bencana dan langkah yang dilakukan ketika bencana terjadi.

“Dengan demikian diharapkan Gladi ini dapat membuat masyarakat lebih siap untuk selamat saat terjadi bencana yang tidak kita inginkan,” kata Suparman.

Dalam Kegiatan ini diikuti dan dilaksanakan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magetan, Perangkat Desa Ngelang dan Tim Siaga Bencana (TSB) Desa Ngelang.

PERINGATI HARI KARTINI 2022, SELURUH KARYAWAN KARYAWATI BPBD MAGETAN PAKAI PAKAIAN ADAT

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magetan, memperingati Hari Kartini 2022 yang jatuh bersamaan bulan Ramadhan dengan menggunakan pakaian adat ketika bekerja pada Kamis (21/04/2022)

Peringatan hari lahir pahlawan wanita yang diperingati seluruh bangsa Indonesia sejak 1964 silam ini untuk memperingati dan menghormati perjuangan RA Kartini mewujudkan persamaan hak antara laki-laki dan wanita dalam berbagai aspek, khususnya di bidang pendidikan.

Kalaksa Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magetan Ari Budi Santosa menegaskan dan memberikan himbauan kepada karyawan karyawati BPBD agar memakai pakaian adat saat peringatan Hari Kartini. Tujuannya adalah sebagai penguat karakter cinta tanah air, yang nantinya semangat itu dapat terwujud dalam menjalankan pekerjaan kemanusiaan dalam penaggulangan bencana di Kabupaten Magetan. Terlihat pada hari itu semua karyawan karyawati memakai pakaian adat tanpa terkecuali. “Memakai pakaian adat pada peringatan Hari Kartini merupakan penguat karakter cinta tanah air,” ujar Ari Budi Santosa.

BPBD Kabupaten Magetan Melakukan Memonitoring Rutin Fungsi Alat Early Warning System (EWS)

Mengingat wilayah Kabupaten Magetan yang rawan akan bencana Pemerintah Kabupaten Magetan melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magetan memasang alat Early Warning System (EWS) Banjir dan Tanah Longsor di daerah yang memiliki kerawanan, antara lain Desa Gonggang Kec Poncol 2 EWS Tanah Longsor, Kel Sarangan Kec Plaosan 2 EWS Tanah Longsor, Desa Ngancar Kec Plaosan 1 EWS Tanah Longsor, Desa Dadi Kec Plaosan 1 EWS Banjir dan 1 EWS Tanah Longsor, Desa Jajar Kec Kartoharjo 1 EWS Banjir, Desa Genilangit Kec Poncol 1 EWS Longsor, Desa Ngelang Kec Kartoharjo 1 EWS Banjir.

Pemasangan EWS yang sejak tahun 2014 telah dilakukan ini, sebagai upaya untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat saat keadaan berpotensi bencana sehingga dapat mengurangi korban dampak bencana.

Kamis, 31 Maret 2022 Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kab Magetan, Suparman S,sos menyampaikan pengecekan sebagai upaya dan memastikan fungsi alat EWS, apakah masih berfungsi untuk memberikan informasi peringatan dini ketika Tanah Longsor dan Banjir terjadi.

“Setelah kita pantau dan mengecek, InsyaAllah semua masih berfungsi dengan baik,” ungkapnya.

Selain itu kata Suparman, juga memastikan bagaimana tentang fungsi sirene EWS yang tersebar di 10 titik di Kabupaten Magetan, apakah berbunyi atau tidak.

“Biasanya berfungsi, karena setiap bulannya, sirene ini dibunyikan semua aktif dan berbunyi semuanya,” ujar Suparman.

Kemudian pihaknya juga memastikan, bagaimana standar operasional prosedur (SOP) pelaksanaan apabila bencana tersebut terjadi.

“Itu yang kita pastikan, bagaimana kinerja alat masih berfungsi dengan baik, alur koordinasi, hingga pesan kesiapsiagaan terhadap bencana tersampaikan hingga ke masyarakat”