BPBD KAB MAGETAN

BPBD Kabupaten Magetan turut berpartisipasi dalam kegiatan Korve Area Telaga Sarangan & Penutupan TPS Sarangan

BPBD Kabupaten Magetan turut berpartisipasi dalam kegiatan Korve Area Telaga Sarangan & Penutupan TPS Sarangan yang dilaksanakan pada Jumat (24/04/2026).

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya bersama dalam mendukung Gerakan Indonesia ASRI serta menjaga kebersihan dan kelestarian kawasan wisata Telaga Sarangan. Kehadiran BPBD Magetan bersama Pemerintah Daerah, masyarakat, paguyuban pedagang, dan pelaku usaha menunjukkan sinergi nyata dalam menciptakan lingkungan yang Aman, Bersih, dan nyaman bagi pengunjung.

Selain kegiatan korve, dilakukan pula penutupan TPS Sarangan sebagai langkah tegas dalam penataan pengelolaan sampah guna mencegah pembuangan sampah sembarangan di kawasan wisata.

BPBD Magetan mengajak seluruh masyarakat untuk turut berperan aktif dalam menjaga kebersihan lingkungan dengan:
✨ Tidak membuang sampah sembarangan
✨ Memilah sampah sesuai jenisnya
✨ Menjaga keindahan kawasan wisata

Lingkungan yang bersih adalah tanggung jawab kita bersama 💚

#GerakanIndonesiaASRI
#MagetanResik
#MagetanASRI
#BPBDMagetan
#SaptaPesona
#SampahTanggungJawabBersama

Pelajar Asal Takeran Ditemukan Meninggal di Sungai Bengawan Madiun, Operasi SAR Ditutup

Seorang pelajar berinisial DAM (19), siswa kelas XII asal Desa Kuwonharjo, Kecamatan Takeran, Kabupaten Magetan, yang dilaporkan hilang sejak Selasa malam (21/04), akhirnya ditemukan pada Kamis (23/04) sore dalam kondisi meninggal dunia di aliran Sungai Bengawan Madiun.

Kejadian bermula pada Rabu (22/04) pukul 08.00 WIB saat BPBD Kabupaten Magetan menerima laporan dari pihak keluarga bahwa korban telah meninggalkan rumah sejak Selasa (21/04) sekitar pukul 21.00 WIB dan belum kembali. Di lokasi berbeda, ditemukan barang bukti berupa sepeda motor, STNK, dan sandal di atas Jembatan Ngujur, Desa Gorang Gareng, Kecamatan Nguntoronadi, yang kemudian dipastikan oleh pihak keluarga sebagai milik korban.

Menindaklanjuti laporan tersebut, personel BPBD Magetan bergerak menuju lokasi pada pukul 09.00 WIB dan mulai melakukan penyisiran bersama perangkat desa dan masyarakat di sekitar sungai dan jembatan. Namun hingga pukul 09.30 WIB, upaya pencarian belum membuahkan hasil. Selanjutnya BPBD melakukan pemantauan, pendataan, serta koordinasi dengan Polsek Nguntoronadi. Kondisi cuaca yang diguyur hujan dengan intensitas sedang menyebabkan debit air sungai meningkat hingga sekitar 50 cm pada malam harinya.

Memasuki hari kedua pencarian, Kamis (23/04), operasi dimulai sejak pukul 07.00 WIB dengan melibatkan BPBD Magetan, TNI/Polri, pemerintah kecamatan, serta relawan dan masyarakat setempat. Setelah berkoordinasi dengan pihak keluarga, secara resmi dibuka Posko Operasi SAR (Opsar). Pada pukul 09.30 WIB, tim BASARNAS tiba di lokasi dan dilanjutkan dengan apel pembukaan Operasi SAR yang dipimpin langsung oleh Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Magetan.

Pencarian dimulai pukul 10.15 WIB dengan melibatkan total 86 personel yang terbagi dalam enam tim. Empat tim melakukan penyisiran menggunakan perahu karet (LCR), sementara dua tim lainnya menyisir jalur darat di sepanjang bantaran sungai. Tim BASARNAS juga melakukan teknik manuver ombak di bawah jembatan untuk membantu mengangkat benda dari dasar sungai ke permukaan.

Setelah sempat mengalami kendala dengan hasil nihil hingga siang hari, tim melakukan evaluasi dan memfokuskan kembali pencarian di sekitar Jembatan Taji. Upaya tersebut akhirnya membuahkan hasil ketika pada pukul 15.10 WIB korban ditemukan mengapung sekitar 450 meter dari lokasi awal kejadian.

Korban kemudian dievakuasi pada pukul 15.30 WIB. Selanjutnya, pada pukul 16.14 WIB dilaksanakan apel penutupan Operasi SAR kecelakaan air. Dengan ditemukannya korban, operasi resmi dinyatakan selesai dan seluruh personel yang terlibat dikembalikan ke kesatuan masing-masing.

BPBD Bekali Siswa SMK Negeri Poncol dengan Kesiapsiagaan Bencana dalam Pembinaan Mental dan Fisik

BPBD terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kapasitas dan kesiapsiagaan masyarakat, khususnya generasi muda, melalui kegiatan Pembinaan Mental dan Fisik bagi siswa SMK Negeri Poncol. Kegiatan ini dilaksanakan pada Senin, 19 April 2026, bertempat di Bumi Perkemahan Alastuwo, Kecamatan Poncol, dengan melibatkan para siswa dalam berbagai sesi edukatif dan praktik lapangan.

 

Dalam kegiatan tersebut, BPBD hadir sebagai narasumber utama yang memberikan pembekalan komprehensif terkait kebencanaan. Materi yang disampaikan meliputi pengenalan dasar-dasar penanggulangan bencana, jenis-jenis bencana yang berpotensi terjadi di lingkungan sekitar, serta langkah-langkah mitigasi yang dapat dilakukan sejak dini. Penyampaian materi dilakukan secara interaktif sehingga para siswa dapat lebih mudah memahami dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, siswa juga mendapatkan pelatihan penggunaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR). Dalam sesi ini, peserta tidak hanya dikenalkan pada teori, tetapi juga diberi kesempatan untuk praktik langsung cara menggunakan APAR dengan benar dan aman. Kegiatan ini menjadi salah satu sesi yang paling menarik perhatian siswa karena memberikan pengalaman nyata dalam menghadapi potensi kebakaran.

Materi lain yang tak kalah penting adalah Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD). Dalam sesi ini, siswa dilatih untuk mampu memberikan pertolongan awal pada korban kecelakaan atau kondisi darurat sebelum mendapatkan penanganan medis lanjutan. Kemampuan ini dinilai sangat penting sebagai bekal dasar dalam situasi darurat di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
Sebagai puncak kegiatan, dilaksanakan gladi simulasi kesiapsiagaan bencana. Simulasi ini dirancang untuk menguji pemahaman dan keterampilan siswa dalam merespons situasi darurat secara cepat, tepat, dan terkoordinasi. Para siswa terlihat antusias dan serius mengikuti setiap tahapan simulasi, mulai dari evakuasi hingga penanganan korban.

Melalui kegiatan ini, diharapkan para siswa SMK Negeri Poncol tidak hanya memiliki ketahanan mental dan fisik yang kuat, tetapi juga memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam menghadapi bencana. BPBD berharap, para siswa dapat menjadi agen perubahan yang mampu menyebarluaskan edukasi kebencanaan di lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat, sehingga tercipta budaya sadar bencana yang semakin kuat di masa mendatang.

BPBD Magetan Lakukan Verifikasi Lapangan Pascabencana Longsor dan Kerusakan Infrastruktur

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magetan melalui Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi melaksanakan kegiatan verifikasi lapangan pada Kamis, 16 April 2026, bersama BPBD Provinsi Jawa Timur. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut atas kejadian bencana tanah longsor yang terjadi pada 10 November 2025 akibat hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi.

Bencana tersebut mengakibatkan tanah longsor pada penahan jalan di ruas jalan raya menuju Desa Gonggang – Desa Janggan, tepatnya di RT 15 RW 05 Desa Janggan, Kecamatan Poncol, Kabupaten Magetan. Kejadian ini juga sempat menimpa dua orang korban serta menyebabkan kerusakan infrastruktur yang cukup signifikan di lokasi kejadian.

Selain itu, tim gabungan juga melakukan verifikasi lapangan di SDN Simbatan 1, Desa Simbatan, Kecamatan Nguntoronadi, yang terdampak kerusakan pada bagian tembok bangunan sekolah akibat bencana tersebut.

Kegiatan verifikasi ini dilakukan sebagai tindak lanjut dari permohonan bantuan yang diajukan BPBD Kabupaten Magetan kepada BPBD Provinsi Jawa Timur melalui Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi. Upaya ini bertujuan untuk mendukung percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana, khususnya pembangunan kembali talud penahan jalan serta pemulihan bangunan yang mengalami kerusakan.

Adapun unsur yang terlibat dalam kegiatan ini antara lain BPBD Kabupaten Magetan, BPBD Provinsi Jawa Timur, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR), Kecamatan Nguntoronadi, Pemerintah Desa Simbatan, Pemerintah Desa Janggan, serta Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Dikpora).

Melalui kegiatan ini, diharapkan proses penanganan pascabencana dapat berjalan secara terkoordinasi dan tepat sasaran, sehingga infrastruktur yang terdampak dapat segera dipulihkan dan kembali memberikan rasa aman bagi masyarakat.

Sinergi Lintas Sektor, Pemangkasan Pohon Rawan Tumbang di Jalur Parang – Lembeyan Demi Keselamatan Masyarakat

BPBD Kabupaten Magetan bersama unsur lintas sektor melaksanakan kegiatan pemangkasan pohon rawan tumbang di Wilayah II Kecamatan Parang, tepatnya di sepanjang Jalan Raya Parang – Lembeyan. Kegiatan ini dilaksanakan selama dua hari, mulai Rabu, 15 April 2026 hingga Kamis, 16 April 2026, sebagai upaya mitigasi bencana guna mengantisipasi potensi pohon tumbang yang dapat mengganggu keselamatan pengguna jalan.

Kegiatan melibatkan petugas gabungan dari BPBD Kabupaten Magetan, Koramil Parang, Polsek Parang, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Magetan, PUPR Wilayah II, serta Kecamatan Parang. Pemangkasan dilakukan sepanjang kurang lebih 4 kilometer dengan jumlah sekitar 20 pohon yang dinilai berpotensi membahayakan karena kondisi rapuh, miring, atau terlalu rimbun.

Selain meningkatkan keselamatan, kegiatan ini juga bertujuan menjaga kelancaran arus lalu lintas serta meminimalisir risiko kejadian darurat saat cuaca ekstrem seperti hujan deras dan angin kencang. Diharapkan dengan adanya sinergi antarinstansi ini, potensi bencana pohon tumbang di wilayah Parang dapat ditekan sehingga masyarakat dapat beraktivitas dengan lebih aman dan nyaman.

#siapuntukselamat
#budayasadarbencana
#bpbdmagetan
#bencanaurusanbersama

84 Kejadian Bencana Selama Maret 2026, Magetan Tingkatkan Kewaspadaan

Selama periode 1 Maret hingga 31 Maret 2026, tercatat sebanyak 84 kejadian bencana dan peristiwa terjadi di Kabupaten Magetan. Kejadian-kejadian tersebut tersebar di 14 kecamatan dan menimbulkan berbagai dampak bagi masyarakat.

Dari total kejadian tersebut, tercatat 1 orang meninggal dunia dan 5 orang mengalami luka-luka. Selain itu, sebanyak 37 pohon tumbang terjadi akibat cuaca ekstrem dan berbagai peristiwa lainnya.

Kerusakan yang ditimbulkan juga cukup signifikan. Sebanyak 13 unit rumah mengalami kerusakan, 2 unit jalan rusak, serta 2 unit sepeda motor turut terdampak akibat bencana dan peristiwa yang terjadi.

Data ini menunjukkan bahwa Kabupaten Magetan masih memiliki potensi kerawanan bencana yang cukup tinggi. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan kewaspadaan, kesiapsiagaan, serta sinergi seluruh pihak dalam upaya pencegahan dan penanggulangan bencana di wilayah Kabupaten Magetan.

Menyeka Tangis di Balik Badai : Janji Setia Kami Menjadi Perisai Bumi Mageti

Oleh : Eka Radityo
Kalaksa BPBD Kabupaten Magetan

Bumi Mageti yang kita cintai dianugerahi bentang alam yang sungguh elok. Pepohonan yang rindang berjajar bak payung hijau raksasa, senantiasa memberikan keteduhan di kala terik matahari menyengat dan menahan laju air di kala hujan turun membasahi pertiwi. Namun, layaknya napas kehidupan manusia, alam pun memiliki siklus dan pergolakan suasana hati.

Ketika langit mulai merajut awan kelabu dan angin berhembus dengan kehendak yang tak lagi terbendung, pepohonan yang tadinya berdiri sebagai pelindung, terkadang terpaksa menyerah pada kejamnya usia dan cuaca. Mereka dapat berubah menjadi dahan-dahan renta yang rapuh dan siap jatuh ke pelukan bumi.

Kami menyadari betul dinamika harmoni alam ini. Tugas kami bukan sekadar menaklukkan bencana, melainkan memahami ritme semesta sembari memasang badan sebagai perisai pelindung bagi masyarakat. Menghadapi cuaca ekstrem yang kerap membawa serta hembusan angin kencang, ancaman pohon tumbang adalah sebuah keniscayaan yang harus kami mitigasi dengan langkah yang terukur, sigap, dan senantiasa penuh empati.

Sebuah duka yang begitu mendalam masih membekas lekat di sanubari kami. Pada hari Minggu, 8 Maret 2026 yang lalu, semesta memberikan ujian yang begitu berat di Jalan Raya Magetan-Ngawi, tepatnya di Desa Bayemtaman, Kecamatan Kartoharjo. Sebuah pohon trembesi tua berdiameter sekitar 70 sentimeter, tak lagi kuasa menahan sapuan angin kencang dan hujan deras yang turun siang itu. Tubuhnya yang gagah roboh secara tiba-tiba, menimpa sebuah keluarga kecil yang tengah berkendara di bawah naungannya mencari jalan pulang.

Dalam peristiwa yang sangat memilukan tersebut, kita harus rela melepas kepergian seorang ananda tercinta, Artha Rizky Rajendra, yang baru menginjak usia 9 tahun. Sementara itu, kedua orang tuanya mengalami luka-luka di tengah hiruk-pikuk evakuasi yang dibasahi rintik hujan. Saat tim BPBD Magetan turun ke lokasi untuk merengkuh para korban dan menyingkirkan dahan yang menutup urat nadi lalu lintas, hati kami ikut gerimis. Melalui untaian kata ini, izinkan kami menundukkan kepala sejenak, mengirimkan doa terbaik dan rasa belasungkawa yang paling tulus kepada keluarga korban. Air mata yang jatuh hari itu adalah pengingat yang menyayat hati bahwa ikhtiar perlindungan ini belum usai dan harus terus disempurnakan.

Tragedi jatuhnya korban jiwa ini menjadi cambuk pengingat bagi kami di BPBD Magetan untuk merapatkan barisan. Ada sejumlah upaya terpadu dan berkelanjutan yang harus terus kami kerjakan agar air mata tak lagi menetes di aspal Magetan karena bencana serupa.

Tentu saja kami tidak melangkah sendirian. Bersama perangkat daerah terkait, kami harus menggiatkan patroli untuk “menyapa” dan memantau kondisi pepohonan di sepanjang jalan protokol. Pohon-pohon yang mahkotanya sudah terlalu berat oleh rimbunnya dedaunan atau dahannya mulai melapuk, harus dipangkas dengan kelembutan. Ini bukanlah bentuk pengrusakan, melainkan cara kami merawat mereka agar tidak tumbang saat badai menari terlalu kencang.

Setiap ruas jalan di Kabupaten Magetan secara harus dipetakan tingkat kerentanannya. Pohon-pohon yang akarnya mulai rapuh terhimpit aspal jalan, atau yang batangnya condong mengancam pengguna jalan, langsung ditandai sebagai prioritas penanganan. Ibarat seorang tabib, kami berusaha mendiagnosis penyakit alam sebelum gejala parah muncul ke permukaan.

Alat mitigasi yang paling tangguh sejatinya bermuara pada kesadaran masyarakat itu sendiri. Kami tiada henti merajut komunikasi dengan warga, mengimbau dengan bahasa yang santun agar tidak menjadikan pohon-pohon besar sebagai tempat berteduh kala hujan badai datang. Biarlah pepohonan itu menahan amuk badai sendirian; kami memohon agar warga senantiasa mencari tempat berlindung di dalam bangunan yang jauh lebih kokoh.

Evakuasi yang cepat, tepat, dan tanggap adalah buah manis dari semangat gotong royong. BPBD merangkul jajaran TNI, Polri, tim relawan, serta aparatur pemerintah desa dalam satu ikatan keluarga besar kesiapsiagaan bencana. Saat musibah datang melintang di jalan raya, tim gabungan ini akan lekas membelah rintangan dan memulihkan kembali denyut nadi kehidupan warga.

Sebagai pelayan masyarakat, kami di BPBD Kabupaten Magetan sangat menyadari bahwa manusia tidak memiliki kuasa untuk menghentikan angin yang berhembus atau menyuruh awan berhenti menurunkan hujannya. Namun, kami berjanji untuk terus berjaga tanpa lelah, menjadi penjaga garis depan dalam merawat keselamatan seluruh warga. Mari kita senantiasa berdampingan dengan alam, menjaga lingkungan dengan cinta kasih, dan selalu mawas diri saat langit mulai meredup.

*)Penulis adalah Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Magetan

TANAH LONGSOR DI JALAN SARANGAN TAWANGMANGU TAK MAKAN KORBAN

Hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi yang mengguyur wilayah Kecamatan Plaosan selama lebih dari tiga jam, mengakibatkan terjadinya tanah longsor di Jalan Raya Tawangmangu–Plaosan, tepatnya masuk Kelurahan Sarangan, Kabupaten Magetan.

Peristiwa longsor terjadi pada Sabtu, 28 Februari 2026 sekitar pukul 05.00 WIB. Material tanah dengan panjang kurang lebih tiga meter dan tinggi sekitar enam meter menutup sekitar 50 persen badan jalan. Akibatnya, arus lalu lintas kendaraan roda dua maupun roda empat sempat terganggu.

Laporan kejadian diterima Pusdalops-PB BPBD Kabupaten Magetan dari Polsek Plaosan pada pukul 07.00 WIB. Selanjutnya, pada pukul 07.30 WIB, tim Pusdalops-PB bersama TRC-PB BPBD Magetan segera menuju lokasi untuk melakukan assessment dan penanganan.

Pada pukul 08.15 WIB, BPBD Kabupaten Magetan bersama unsur TNI, Polri, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Magetan, Perhutani, perangkat Kelurahan Sarangan, serta masyarakat sekitar, melaksanakan kerja bakti pembersihan material longsor.

Berkat kerja sama dan respon cepat seluruh pihak, pada pukul 09.49 WIB proses pembersihan selesai dilakukan dan arus lalu lintas kembali normal. Dalam kejadian ini, tidak terdapat korban jiwa.

BPBD Kabupaten Magetan mengimbau kepada seluruh masyarakat, khususnya yang tinggal di wilayah rawan longsor, agar meningkatkan kewaspadaan terhadap tanda-tanda potensi longsor, seperti munculnya retakan pada tanah atau dinding rumah, pohon dan tiang yang mulai miring, keluarnya air keruh dari celah tanah, serta terdengarnya suara gemuruh dari arah lereng.

Masyarakat juga diingatkan untuk menghindari aktivitas di sekitar lereng terjal, terutama saat dan setelah hujan deras, serta tidak melintasi area yang telah diberi barikade atau ditutup terpal karena berpotensi terjadi longsor susulan.

Upaya Pencarian Orang Hilang di Desa Lembeyan Wetan, BPBD Magetan Bersama Tim Gabungan Kerahkan 188 Personil

Magetan – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magetan bersama tim gabungan telah melaksanakan operasi pencarian terhadap seorang warga Desa Lembeyan Wetan, Kecamatan Lembeyan, yang dilaporkan hilang sejak Jumat, 9 Mei 2025.

Berdasarkan kronologi yang dihimpun, korban dilaporkan hilang setelah pamit kepada ayahnya sekitar pukul 13.00 WIB untuk menyusul ibunya ke kebun yang berlokasi di pinggir hutan. Saksi mata, Srd. Miskun, melihat korban berjalan ke arah kebun. Namun saat sang ayah tiba kembali di kebun sekitar pukul 14.00 WIB, korban tidak ditemukan di lokasi. Upaya pencarian oleh keluarga dan perangkat desa pada hari itu tidak membuahkan hasil. Pukul 17.30 WIB, orang tua korban melaporkan kejadian ini ke Polsek Lembeyan.

Informasi hilangnya korban diterima oleh Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) BPBD Magetan pada Sabtu, 10 Mei 2025 pukul 09.00 WIB. Tim Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (TRC-PB) segera diturunkan untuk melakukan koordinasi, asesmen ke lokasi kejadian, serta mendata kondisi awal. Pencarian awal oleh TNI, Polri, perangkat desa, dan warga sekitar masih belum membuahkan hasil.

Pada Minggu, 11 Mei 2025 pukul 07.00 WIB, operasi SAR (Opsar) secara resmi dibuka dengan kekuatan 188 personil di bawah komando Basarnas Pos SAR Trenggalek. Tim pencarian gabungan terdiri dari unsur BPBD Magetan, Basarnas, TNI, Polri, Dinas Kesehatan, Perhutani, Pemerintah Desa, Agen Bencana Provinsi Jawa Timur, Tagana, PMI, relawan dan masyarakat setempat. Pencarian dilakukan dengan metode berbanjar, menyisir area hutan RPH Lembeyan BKPH Sampung yang memiliki luas sekitar 60,12 hektare. Hingga pukul 16.00 WIB, korban belum ditemukan dan tim melanjutkan dengan briefing untuk persiapan pencarian hari berikutnya.

Namun pada pukul 17.00 WIB, BPBD Magetan menerima informasi dari BPBD Bojonegoro bahwa telah ditemukan jenazah yang diduga merupakan korban di aliran Sungai Bengawan Solo wilayah Desa Payaman, Kecamatan Ngraho, Kabupaten Bojonegoro. Proses evakuasi dilakukan oleh tim BPBD Bojonegoro pada pukul 16.45 WIB.

BPBD Magetan bersama keluarga korban, perangkat desa, serta potensi relawan segera menuju RSUD Dr. Sosodoro Bojonegoro untuk proses identifikasi jenazah. Pada Senin dini hari, 12 Mei 2025 pukul 00.31 WIB, identitas jenazah berhasil dikonfirmasi dan telah diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan.

BPBD Magetan mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat dalam proses pencarian, termasuk unsur TNI/Polri, Basarnas, relawan, dan masyarakat. Tragedi ini menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan, serta koordinasi lintas wilayah dalam penanganan kejadian bencana dan musibah kemanusiaan.

BPBD Bersama Damkar Magetan Kolaborasi Evakuasi Sapi Didalam Sumur

BPBD Kabupaten Magetan menerima laporan dari Perangkat Kelurahan Bendo pada Kamis (24/10) pukul 09.15 WIB bahwa terdapat hewan ternak milik Bapak Subagiyo (55th) beralamatkan di Kelurahan Bendo RT 06 RW 02, Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan masuk kedalam sumur miliknya yang berjarak -+10m dari kandang sapi pada pukul 08.00 WIB. Anak sapi usia 3 bulan seberat -+3 kuintal tersebut lepas dari kandang dan masuk kedalam sumur sedalam -+20 meter. Kemudian meminta bantuan BPBD dan Damkar Kabupaten Magetan untuk mengevakuasi anak sapi tersebut.

Kamis (24/10) pukul 10.15 WIB BPBD dan Damkar Magetan menuju lokasi kejadian. Pukul 10.27 WIB BPBD Kabupaten Magetan melakukan evakuasi dengan peralatan Tripot menggunakan metode Vertical Rescue, kemudian sapi diangkat menggukan katrol dari sumur sedalam -+20 meter. Dalam penanganan petugas menggunakan APD lengkap karena terdapat gas beracun didalam sumur. BPBD dibantu oleh Damkar, TNI, Polri, Perangkat Kelurahan Bendo, Potensi Relawan dan Masyarakat.

Pukul 12.00 WIB Sapi berumur 3 bulan dengan berat -+3 kuintal berhasil di evakuasi dengan peralatan Tripot menggunakan metode Vertical Rescue, kemudian sapi diangkat menggukan katrol dari sumur sedalam -+20 meter dalam keadaan mati kemudian diserahkan kepada pemilik untuk dikubur

BPBD Kabupaten Magetan menghimbau kepada masyarakat, agar lebih waspada dan berhati- hati dan menutup bibir sumur atau lubang saluran air lainnya sebagai upaya menghindari kejadian serupa.