Skip to main content

BPBD KAB MAGETAN

Antisipasi Perluasan Karhutla Gunung Lawu, BPBD Magetan Koordinasi ke Posko Cemoro Kandang

Sebagai langkah antisipasi terhadap potensi perluasan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Lawu, Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Magetan, Eka Radityo, S.STP., M.H., bersama personel Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops-PB) dan Tim Reaksi Cepat (TRC-PB), melaksanakan koordinasi ke Posko Aju Cemoro Kandang, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, pada Sabtu (17/10/2026).

Koordinasi tersebut dilakukan untuk memperoleh informasi terkini mengenai perkembangan kebakaran hutan di kawasan Gunung Lawu, langkah-langkah penanganan yang telah dilaksanakan, serta upaya antisipasi terhadap kemungkinan penjalaran api ke kawasan hutan yang masuk wilayah administratif Kabupaten Magetan.

Berdasarkan informasi dari BPBD Kabupaten Karanganyar, kebakaran terjadi di kawasan hutan lindung Gunung Lawu, tepatnya di petak 28 B, 32, 62 C, dan 63, RPH Blumbang, BKPH Lawu Utara, KPH Surakarta, yang berada di Desa Gondosuli, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar. Kebakaran pertama kali dilaporkan oleh warga pada Kamis (15/10/2026) sekitar pukul 10.00 WIB dan api dilaporkan membesar pada sore harinya.

Hingga informasi diterima dalam koordinasi tersebut, luas area yang terbakar diperkirakan mencapai kurang lebih 100 hektare. Area terdampak meliputi vegetasi alang-alang, tanaman perdu, dan hutan pinus.

Dalam penanganannya, tim gabungan terus melakukan upaya pemadaman secara manual, pemantauan titik api, serta pembuatan sekat bakar untuk mencegah perambatan api ke petak hutan lainnya. Proses pemadaman menghadapi sejumlah kendala, di antaranya angin kencang, kondisi lereng yang terjal, serta lokasi kebakaran yang sulit dijangkau kendaraan pemadam kebakaran.

Penanganan kebakaran didukung melalui sejumlah posko, yakni Posko Induk Gondosuli di Kecamatan Tawangmangu, Posko Aju Cemoro Kandang di Tawangmangu, serta Posko Aju Tambak di Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso.

Berdasarkan hasil koordinasi, titik api yang dilaporkan masih berada di wilayah Jawa Tengah. Upaya pencegahan juga dilakukan pada area bagian atas dan bawah untuk mengendalikan penjalaran api agar tidak meluas ke kawasan hutan lainnya, termasuk ke wilayah Kabupaten Magetan.

Sebagai langkah kesiapsiagaan, pemantauan terhadap kondisi kawasan hutan di wilayah Kabupaten Magetan perlu terus ditingkatkan. Perum Perhutani di wilayah Magetan diharapkan tetap meningkatkan kewaspadaan, memperkuat patroli kawasan hutan, serta menjaga koordinasi dengan BPBD, pemerintah setempat, dan unsur terkait lainnya. Langkah tersebut diperlukan untuk mendukung deteksi dini apabila ditemukan titik api atau indikasi kebakaran yang berpotensi mengancam wilayah Magetan.

Melalui koordinasi lintas wilayah ini, BPBD Kabupaten Magetan berupaya memastikan perkembangan informasi karhutla dapat diterima secara cepat dan akurat sebagai dasar pengambilan langkah antisipasi. Kesiapsiagaan personel, penguatan komunikasi antarinstansi, serta keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam upaya mengurangi risiko dan mencegah dampak kebakaran hutan yang lebih luas.

BPBD Kabupaten Magetan juga mengimbau masyarakat, khususnya yang berada di sekitar kawasan hutan dan lereng Gunung Lawu, agar tidak melakukan pembakaran lahan maupun membakar sampah di area yang berpotensi memicu kebakaran. Masyarakat diminta segera melaporkan kepada petugas apabila menemukan asap atau titik api, tidak mendekati lokasi kebakaran, serta mengikuti informasi dan arahan resmi dari pihak berwenang.

Gotong Royong Warga Padamkan Kebakaran Lahan Bambu di Plaosan, BPBD Lakukan Pembasahan

MAGETAN – Kebakaran lahan bambu terjadi di area tebing samping jalan Dusun Kandenan, Kelurahan Plaosan, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, pada Sabtu (17/10/2026) sekitar pukul 11.00 WIB. Kebakaran tersebut mengakibatkan lahan bambu seluas kurang lebih 100 meter persegi terbakar. Tidak terdapat korban luka dalam kejadian ini.

 

Laporan kebakaran diterima Call Center BPBD Kabupaten Magetan pada pukul 11.30 WIB. Mengetahui kejadian tersebut, masyarakat sekitar langsung bergotong royong melakukan upaya pemadaman awal dengan menggunakan ember berisi air. Upaya ini dilakukan untuk mengendalikan api agar tidak semakin meluas sebelum petugas tiba di lokasi.

Personel BPBD Kabupaten Magetan berangkat menuju lokasi pada pukul 11.45 WIB dan tiba untuk melakukan penanganan bersama unsur TNI, Polri, serta masyarakat sekitar. Saat personel BPBD tiba, warga telah melakukan upaya pemadaman secara mandiri. Petugas kemudian melanjutkan penanganan dengan melakukan penyemprotan dan pembasahan pada area yang terbakar guna memastikan api benar-benar padam serta mencegah potensi munculnya kembali titik api.

Berkat kerja sama dan gotong royong masyarakat bersama petugas dan unsur terkait, kebakaran berhasil dipadamkan pada pukul 13.00 WIB. Penanganan dilanjutkan dengan pembasahan hingga kondisi di lokasi terkendali.

Kejadian ini menjadi bukti pentingnya kepedulian dan partisipasi masyarakat dalam penanganan awal keadaan darurat. Respons cepat warga melalui gotong royong membantu mengendalikan situasi sembari menunggu kedatangan petugas.

BPBD Kabupaten Magetan mengimbau masyarakat untuk selalu waspada terhadap potensi kebakaran lahan, khususnya pada area yang ditumbuhi vegetasi kering dan mudah terbakar. Masyarakat diingatkan untuk tidak membuka lahan dengan cara dibakar, tidak membuang puntung rokok sembarangan, serta tidak menyalakan api di kawasan yang rawan terbakar.

Mari bersama menjaga lingkungan dan mencegah kebakaran. Kepedulian masyarakat, kewaspadaan, dan koordinasi dengan petugas menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko bencana.

GEMPA BUMI MAGNITUDO 1,9 TERDETEKSI DI WILAYAH KECAMATAN PONCOL, BELUM ADA LAPORAN DAMPAK

MAGETAN – Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), telah terdeteksi aktivitas gempa bumi dengan magnitudo 1,9 pada Kamis, 8 Oktober 2026, pukul 22.09.17 WIB. Episenter gempa berada pada koordinat 7,77° LS dan 111,23° BT, atau sekitar 18 kilometer barat daya Kabupaten Magetan, Jawa Timur, dengan kedalaman 20 kilometer. Secara administratif, lokasi tersebut berada di wilayah Kecamatan Poncol, Kabupaten Magetan.

Hingga Jumat, 9 Oktober 2026, belum terdapat laporan dampak akibat gempa bumi tersebut di wilayah Kabupaten Magetan.

BPBD Kabupaten Magetan telah berkoordinasi dengan BMKG Nganjuk untuk memperoleh informasi lebih lanjut terkait kejadian tersebut. Berdasarkan hasil koordinasi, hingga saat ini belum ditemukan adanya sesar atau patahan yang teridentifikasi di sekitar lokasi gempa.

BMKG menjelaskan bahwa berdasarkan kedalaman dan lokasi episenternya, gempa tersebut memiliki karakteristik sebagai gempa bumi dangkal. Mengingat sumber gempa berada di daratan, salah satu kemungkinan penyebabnya adalah aktivitas sesar atau patahan aktif, baik yang belum teridentifikasi di sekitar sumber gempa maupun yang berkaitan dengan Sesar Pandan di sebelah utara wilayah Kabupaten Magetan.

Meski demikian, penyebab pasti gempa bumi tersebut masih memerlukan kajian lebih lanjut. BMKG juga menjelaskan bahwa gempa bumi tidak hanya berkaitan dengan satu titik episenter, melainkan melibatkan bidang sumber gempa. Oleh karena itu, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui karakteristik dan kemungkinan keberadaan sesar atau patahan yang belum teridentifikasi.

BPBD Kabupaten Magetan terus memantau perkembangan informasi dan mengimbau masyarakat agar tetap tenang serta tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi. Masyarakat diharapkan memperoleh informasi kebencanaan melalui kanal resmi BMKG dan BPBD Kabupaten Magetan.

Posko Karhutla Ngiliran Ditutup, Titik Api di Lereng Lawu Wilayah Magetan dan Ngawi Padam

Magetan, 19 September 2026 – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Lawu, wilayah perbatasan Kabupaten Magetan dan Kabupaten Ngawi, dinyatakan selesai setelah seluruh titik api yang terpantau di kedua wilayah berhasil dipadamkan.

Kebakaran pertama kali dilaporkan kepada Call Center BPBD Kabupaten Magetan pada Senin, 14 September 2026 sekitar pukul 09.00 WIB. Kebakaran diketahui terjadi sejak sekitar pukul 07.58 WIB di kawasan Gunung Lawu, perbatasan Desa Jabung, Kecamatan Panekan, Kabupaten Magetan dengan Desa Karangrejo, Kecamatan Kendal, Kabupaten Ngawi. Kebakaran berada di sekitar Petak 50 dan Petak 44 RPH Jabung.

Selanjutnya, pada Rabu, 16 September 2026 sekitar pukul 11.00 WIB, kembali dilaporkan adanya titik api di Petak 66 RPH Bedagung, Desa Getasanyar, Kecamatan Sidorejo, Kabupaten Magetan.

Dari hasil penanganan dan pemantauan, kebakaran di wilayah Petak 50 mencakup luasan sekitar 9 hektare, meliputi Petak 50E1, 50A1, dan 50A2. Sementara kebakaran di Petak 66 RPH Bedagung mencakup luasan sekitar 8 hektare. Tidak terdapat korban jiwa dalam kejadian tersebut.

Sebagai bagian dari upaya penanganan, tim gabungan juga melakukan pembuatan ilaran untuk mencegah meluasnya api. Hingga Sabtu, 19 September 2026, ilaran di Petak 50A2 hingga Petak 51B-1/56B/56C (Alur F) telah mencapai sekitar 3,5 kilometer. Sementara di Petak 66 RPH Bedagung, pembuatan ilaran mencapai sekitar 1,17 kilometer.

Pada Sabtu (19/9), pemantauan kembali dilakukan oleh personel LMDH dan Tim Posko Karhutla Kabupaten Magetan. Pukul 07.30 WIB, sebanyak lima personel LMDH Ngiliran bergerak menuju Rajek Angin untuk melakukan pemantauan titik api dan ilaran. Hasil pemantauan pukul 08.00 WIB menunjukkan tidak terdapat titik api.

Pemantauan visual juga dilakukan oleh personel posko dari Lapangan Desa Ngiliran pada pukul 08.30 WIB dan tidak terlihat adanya titik api.

Koordinasi dengan Posko Karhutla Kabupaten Ngawi terus dilakukan untuk memastikan kondisi di wilayah perbatasan. Pada pukul 13.30 WIB, hasil koordinasi menunjukkan masih terdapat titik api di perbatasan Petak 39 dan Petak 41/43A-1 wilayah Ngawi dan masih dilakukan upaya pendinginan oleh tim Karhutla Ngawi.

Upaya tersebut membuahkan hasil. Pada pukul 14.30 WIB, titik api di perbatasan Petak 39 dan Petak 41/43A-1 berhasil dipadamkan dan seluruh titik api di wilayah Ngawi dinyatakan padam.

Personel BPBD Kabupaten Magetan kemudian kembali ke Posko Karhutla Ngiliran. Pada pukul 15.30 WIB, hasil koordinasi akhir antara Posko Karhutla Kabupaten Magetan dan Posko Karhutla Kabupaten Ngawi menyepakati bahwa Posko Karhutla Ngiliran dapat dihentikan atau ditutup, karena seluruh titik api di kedua wilayah telah padam.

Meskipun posko dihentikan, pemantauan terhadap kawasan Gunung Lawu tetap akan dilakukan secara berkala. Apabila sewaktu-waktu kembali ditemukan titik api, maka Posko Karhutla dapat dibuka kembali sesuai kebutuhan penanganan di lapangan.

BPBD Kabupaten Magetan mengimbau masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan, terutama selama kondisi cuaca kering. Masyarakat juga diminta tidak melakukan pembakaran hutan, lahan, maupun sampah yang berpotensi memicu dan memperluas kebakaran.

BPBD Magetan Perkuat Pencegahan Karhutla Gunung Lawu, Titik Api di Wilayah Magetan Berhasil Dipadamkan

Kebakaran hutan kembali terjadi di kawasan Gunung Lawu yang berada di wilayah Kabupaten Magetan dan berbatasan dengan Kabupaten Ngawi. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magetan bersama unsur TNI, Polri, Perhutani, pemerintah daerah, relawan, serta masyarakat melakukan penanganan dan upaya pencegahan agar api tidak meluas ke wilayah Kabupaten Magetan.

Kebakaran pertama dilaporkan terjadi pada Senin, 14 September 2026 sekitar pukul 07.58 WIB, di kawasan Gunung Lawu yang berada di perbatasan Desa Jabung, Kecamatan Panekan, Kabupaten Magetan dengan Desa Karangrejo, Kecamatan Kendal, Kabupaten Ngawi. Laporan kejadian diterima Call Center BPBD Kabupaten Magetan pada pukul 09.00 WIB.

Kebakaran tersebut berdampak pada kawasan hutan dengan luasan kurang lebih 9 hektare, yang masuk dalam petak 50E1, 50A1, dan 50A2. Sementara itu, titik api juga terpantau berada di wilayah Kabupaten Ngawi, yakni pada petak 41 dan 42D.

Pada Rabu, 16 September 2026, BPBD kembali menerima laporan adanya titik api baru sekitar pukul 11.00 WIB. Titik tersebut berada di kawasan Gunung Lawu, tepatnya di petak 66 RPH Bedagung, Desa Getasanyar, Kecamatan Sidorejo, Kabupaten Magetan. Kebakaran di lokasi tersebut diperkirakan berdampak pada kawasan hutan seluas kurang lebih 8 hektare.

Menindaklanjuti laporan tersebut, personel gabungan segera melakukan pengecekan dan penanganan di lapangan. Upaya dilakukan secara terpadu dengan melibatkan BPBD, TNI, Polri, Perhutani, Cabang Dinas Kehutanan, pemerintah kecamatan dan desa, serta berbagai unsur relawan dan masyarakat.

Selain penanganan titik api, upaya pencegahan penyebaran api juga dilakukan melalui pembuatan ilaran atau sekat bakar. Hingga Rabu (16/9), pembuatan ilaran dari kawasan Watu Gede menuju Racekangin telah mencapai panjang kurang lebih 2,7 kilometer. Ilaran dibuat sebagai langkah antisipasi untuk menghambat potensi pergerakan api agar tidak masuk ke wilayah Kabupaten Magetan.

Dalam pelaksanaan penanganan, personel gabungan bergerak sejak pagi hari. Apel dan briefing dilaksanakan sekitar pukul 08.00 WIB, dilanjutkan dengan pergerakan personel menuju Watu Gede untuk melanjutkan pembuatan ilaran. Pada sekitar pukul 11.00 WIB, tim juga kembali memantau adanya titik api di kawasan Gunung Anakan yang berada di wilayah Kabupaten Ngawi.

Di tengah pelaksanaan pembuatan ilaran, sekitar pukul 12.36 WIB tim menerima informasi adanya kepulan asap di sekitar petak 66 RPH Bedagung. Setelah dilakukan pengecekan oleh Perhutani, titik api dipastikan berada di petak 66 yang berbatasan dengan petak 67.

Penanganan kemudian dilakukan oleh unsur Perhutani, TNI, Polri dan masyarakat. BPBD Kabupaten Magetan turut mengerahkan personel dari posko untuk menuju lokasi. Upaya pemadaman dan pembasahan dilakukan hingga kondisi titik api berhasil dikendalikan.

Sekitar pukul 14.40 WIB, titik api di petak 66 RPH Bedagung dilaporkan sudah tidak terlihat. Selanjutnya, pada pukul 15.00 WIB dilakukan pembasahan menggunakan jet shooter. Tim kemudian melaksanakan penyisiran sekaligus pembuatan sekat bakar di sekitar petak 66 sebagai langkah antisipasi munculnya kembali titik api.

Sementara itu, untuk kawasan petak 50 yang masuk wilayah administratif Desa Jabung, Kecamatan Panekan, Kabupaten Magetan, kondisi titik api telah padam dan tidak terdapat titik api aktif di wilayah Kabupaten Magetan. Pemantauan tetap dilakukan untuk mengantisipasi potensi munculnya kembali api maupun pergerakan api dari wilayah sekitar.

Penanganan karhutla Gunung Lawu melibatkan kekuatan gabungan sebanyak 155 personel, terdiri dari BPBD, TNI, Polri, Perhutani, Cabang Dinas Kehutanan, pemerintah kecamatan dan desa, serta unsur relawan dan masyarakat. Personel gabungan tersebut antara lain berasal dari KSB, Tagana, SAR MTA, Senkom, RAPI, KKN Unesa, LMDH, kelompok masyarakat, PMI, Lakeguard, FKAM, dan unsur lainnya.

Pada Rabu sore, dilaksanakan apel penutupan dan evaluasi penanganan karhutla Gunung Lawu hari kedua. Perhutani bersama kelompok Warung Puncak juga masih melakukan standby di wilayah petak 66 untuk memastikan kondisi tetap aman.

Berdasarkan hasil evaluasi, penanganan akan kembali dilanjutkan pada Kamis, 17 September 2026. Kegiatan diawali dengan apel pada pukul 08.00 WIB, kemudian personel akan melanjutkan upaya pencegahan agar api tidak masuk ke wilayah Kabupaten Magetan, termasuk melanjutkan pembuatan ilaran dan pemantauan kawasan hutan.

BPBD Kabupaten Magetan mengimbau masyarakat untuk bersama-sama mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan, khususnya selama musim kemarau. Masyarakat diminta tidak membuka lahan dengan cara dibakar, tidak membuang puntung rokok sembarangan, serta tidak menyalakan api di kawasan yang mudah terbakar.

Kewaspadaan dan kepedulian bersama sangat diperlukan untuk mencegah kebakaran meluas serta melindungi kawasan hutan, lingkungan, dan masyarakat di sekitar kawasan rawan karhutla.

Kebakaran Hutan Terjadi di Gunung Lawu, BPBD Magetan Bersama Tim Gabungan Lakukan Penanganan

MAGETAN – Kebakaran hutan terjadi di kawasan Gunung Lawu, tepatnya di wilayah perbatasan Desa Jabung, Kecamatan Panekan, Kabupaten Magetan dengan Desa Karangrejo, Kecamatan Kendal, Kabupaten Ngawi, Senin (14/9/2026). Kebakaran dilaporkan terjadi di kawasan hutan Petak 50 RPH Bedagung dengan luasan terdampak diperkirakan mencapai kurang lebih 2 hektare.

Laporan kejadian diterima oleh Call Center Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magetan pada Senin (14/9) sekitar pukul 09.00 WIB. Berdasarkan informasi awal, titik kebakaran berada di kawasan Gunung Lawu, meliputi Petak 50 dan Petak 44 RPH Jabung. Tidak terdapat korban jiwa dalam kejadian tersebut.

Menindaklanjuti laporan, pada pukul 09.10 WIB personel BPBD Kabupaten Magetan bergerak menuju lokasi untuk melakukan asesmen sekaligus koordinasi dengan unsur terkait guna menentukan langkah penanganan. Sekitar pukul 09.45 WIB, personel BPBD bersama tim gabungan menuju titik api dan melaksanakan upaya pemadaman secara manual menggunakan metode gepyok, jet shooter, serta pembuatan ilaran sebagai upaya menghambat pergerakan api.

Untuk mempercepat penanganan, BPBD Kabupaten Magetan juga mengerahkan personel on call tambahan pada pukul 14.00 WIB. Hingga hasil pemantauan dan briefing sore sekitar pukul 17.00 WIB, titik api masih terpantau menyala di kawasan Petak 50 RPH Bedagung. Tim terus melakukan pemantauan dan penanganan di lokasi.

Dalam upaya mengantisipasi meluasnya kebakaran, pada Senin malam masyarakat Desa Ngiliran turut bergerak untuk membuat ilaran. Sementara itu, berdasarkan hasil briefing sore, Posko Karhutla akan dibuka pada Selasa (15/9/2026) di Kantor Desa Ngiliran, Kecamatan Panekan. Apel bersama dijadwalkan dilaksanakan pada pukul 08.00 WIB di depan Kantor Desa Ngiliran sebagai bagian dari koordinasi penanganan kebakaran hutan.

Penanganan kejadian melibatkan berbagai unsur, di antaranya BPBD Kabupaten Magetan, TNI, Polri, Agen Bencana BPBD Provinsi Jawa Timur, BPBD Kabupaten Ngawi, Perhutani, Pemerintah Kecamatan Panekan, Pemerintah Desa Jabung dan Desa Ngiliran, Destana Jabung dan Destana Ngiliran, PMI, Tagana, KSB Bakti Mulya, LMDH Jabung dan Ngiliran, Masyarakat Peduli Api (MPA), serta masyarakat sekitar.

BPBD Kabupaten Magetan mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan, khususnya selama musim kemarau. Masyarakat diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membuang puntung rokok sembarangan, serta tidak menyalakan api di kawasan yang mudah terbakar.

Kewaspadaan dan kepedulian bersama menjadi langkah penting untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan semakin meluas serta menjaga kelestarian kawasan hutan Gunung Lawu.

Kebakaran Hutan Rakyat Gunung Bancak Magetan Berhasil Ditangani, BPBD Imbau Masyarakat Waspadai Potensi Karhutla

MAGETAN – Kebakaran lahan kembali terjadi di wilayah Kabupaten Magetan. Kebakaran melanda kawasan hutan rakyat di Gunung Bancak yang berada di wilayah Desa Pupus, Kecamatan Lembeyan dan Desa Tladan, Kecamatan Kawedanan, Kabupaten Magetan, Jumat (11/9/2026).

Laporan kejadian diterima oleh Call Center Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magetan sekitar pukul 09.30 WIB. Berdasarkan informasi yang diterima, kebakaran diperkirakan terjadi sejak sekitar pukul 08.00 WIB. Menindaklanjuti laporan tersebut, BPBD Kabupaten Magetan segera mengerahkan personel menuju lokasi untuk melakukan asesmen awal sekaligus berkoordinasi dengan unsur terkait guna menentukan langkah penanganan.

Pada pukul 09.45 WIB, personel BPBD Kabupaten Magetan bergerak menuju kawasan Gunung Bancak. Setibanya di lokasi, petugas melakukan pemantauan terhadap kondisi titik api serta berkoordinasi dengan TNI dan perangkat wilayah setempat. Hasil koordinasi pada pukul 10.30 WIB menunjukkan bahwa titik api masih berada di kawasan atas Gunung Bancak dan relatif jauh dari permukiman warga.

Dengan mempertimbangkan kondisi medan dan posisi titik api yang berada di kawasan atas, untuk sementara dilakukan pemantauan dan pengawasan terhadap perkembangan kebakaran. Pemantauan lanjutan kemudian direncanakan pada pukul 13.00 WIB, khususnya di kawasan perbatasan antara Desa Pupus dan Desa Tladan.

Pada pukul 13.00 WIB, personel BPBD Kabupaten Magetan bersama unsur gabungan kembali menuju titik api untuk melakukan penanganan secara langsung. Upaya pemadaman dilakukan secara manual dengan metode gepyok, serta pembuatan ilaran sebagai sekat untuk membatasi pergerakan api dan mencegah kebakaran meluas ke area lainnya.

Penanganan dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi medan di kawasan Gunung Bancak yang cukup sulit dijangkau kendaraan. Oleh karena itu, personel bersama unsur yang terlibat melakukan pemadaman secara langsung di lokasi dengan peralatan manual, sekaligus memastikan api tidak kembali menjalar ke vegetasi di sekitarnya.

Setelah dilakukan penanganan selama beberapa jam, kebakaran lahan di Gunung Bancak dengan luas area terdampak sekitar ±2 hektare berhasil ditangani pada pukul 15.30 WIB. Petugas juga melakukan pemantauan untuk memastikan tidak terdapat titik api baru yang berpotensi menimbulkan kebakaran susulan.

Dalam penanganan kejadian tersebut, BPBD Kabupaten Magetan bersinergi dengan berbagai unsur, di antaranya TNI, Polri, Agen Bencana BPBD Provinsi Jawa Timur, Kecamatan Kawedanan, Pemerintah Desa Tladan, Potensi Relawan Magetan, serta masyarakat sekitar. Kolaborasi lintas unsur tersebut menjadi bagian penting dalam mempercepat penanganan kebakaran sekaligus mencegah api meluas ke wilayah yang lebih berisiko.

Kejadian kebakaran lahan ini kembali menjadi perhatian, terutama di tengah kondisi musim kemarau yang dapat meningkatkan potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Vegetasi yang relatif kering dan kondisi cuaca yang panas dapat menyebabkan api lebih mudah menyebar apabila tidak segera ditangani.

BPBD Kabupaten Magetan mengimbau masyarakat untuk bersama-sama meningkatkan kewaspadaan dan mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Masyarakat diminta tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara dibakar, tidak membuang puntung rokok sembarangan, serta tidak menyalakan api di sekitar area yang memiliki vegetasi kering dan mudah terbakar.

BPBD juga mengajak masyarakat untuk segera melaporkan apabila menemukan adanya titik api atau indikasi kebakaran di wilayah sekitar. Deteksi dan pelaporan secara cepat diharapkan dapat mempercepat proses penanganan sehingga kebakaran tidak meluas dan menimbulkan dampak yang lebih besar.

“Cegah Karhutla, Jaga Lingkungan, Lindungi Sesama.”

Musim Kemarau, BPBD Magetan Ingatkan Warga Waspada Kebakaran Hutan dan Lahan

MAGETAN – Memasuki musim kemarau, Pemerintah Kabupaten Magetan melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi cuaca yang cenderung kering membuat vegetasi dan rerumputan lebih mudah terbakar, terutama di wilayah yang berada di sekitar kawasan perbukitan dan lereng gunung.

Kabupaten Magetan memiliki sejumlah wilayah yang berada di kawasan lereng Gunung Lawu, Gunung Bancak, maupun Gunung Bungkuk. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu mendapat perhatian dalam menghadapi potensi kebakaran selama musim kemarau.

Sepanjang bulan Agustus, tercatat enam kejadian kebakaran hutan dan lahan di kawasan Gunung Bungkuk serta satu kejadian di kawasan Gunung Bancak. Lahan yang terbakar merupakan lahan milik masyarakat yang sebagian ditanami tanaman jati.

Meningkatnya kejadian tersebut menjadi pengingat bagi masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, terutama ketika kondisi lahan dan vegetasi berada dalam keadaan kering.

BPBD Kabupaten Magetan mengimbau masyarakat untuk tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara dibakar. Api yang awalnya digunakan untuk membersihkan lahan dapat dengan cepat merambat akibat kondisi vegetasi yang kering, hembusan angin, maupun sulitnya mengendalikan api di kawasan perbukitan.

Selain mengancam tanaman dan kawasan hutan, kebakaran lahan juga dapat menimbulkan kerugian material, mengganggu kualitas udara, mengancam keselamatan masyarakat, serta berpotensi meluas ke kawasan permukiman maupun kawasan hutan di sekitarnya.

Masyarakat juga diimbau untuk tidak meninggalkan bara api atau sumber api di kawasan hutan dan lahan. Aktivitas seperti membakar sampah, membuang puntung rokok sembarangan, maupun menggunakan api di area yang memiliki banyak material kering perlu dihindari, khususnya selama kondisi kemarau.

Membuka Lahan dengan Cara Membakar Dilarang

BPBD Magetan menegaskan bahwa masyarakat dilarang melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar. Larangan tersebut diatur dalam Pasal 69 ayat (1) huruf h Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, yang melarang setiap orang melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar.

Bagi masyarakat yang terbukti melakukan pembakaran lahan sebagaimana ketentuan tersebut, Pasal 108 UU Nomor 32 Tahun 2009 mengatur ancaman pidana penjara paling singkat 3 tahun dan paling lama 10 tahun serta denda paling sedikit Rp3 miliar dan paling banyak Rp10 miliar.

Karena itu, masyarakat tidak boleh menganggap pembakaran lahan sebagai cara sederhana untuk membersihkan atau membuka lahan. Tindakan tersebut dapat menimbulkan dampak yang lebih luas dan, apabila memenuhi unsur pelanggaran hukum, dapat berujung pada proses hukum.

BPBD Magetan juga mengajak masyarakat untuk berperan aktif dalam pencegahan karhutla dengan menjaga lahan masing-masing, tidak membakar vegetasi atau sampah di lahan terbuka, serta segera melaporkan apabila melihat titik api atau kejadian kebakaran.

“Jangan tunggu api membesar. Cegah sebelum terjadi dan segera laporkan apabila menemukan kebakaran,” menjadi pesan penting BPBD Magetan kepada seluruh masyarakat selama musim kemarau.

Dengan meningkatkan kepedulian dan kewaspadaan bersama, potensi kebakaran hutan dan lahan di wilayah Kabupaten Magetan diharapkan dapat ditekan sehingga lingkungan, lahan pertanian, perkebunan, kawasan hutan, serta keselamatan masyarakat tetap terjaga.

BPBD Kabupaten Magetan Catat 16 Kejadian Bencana dan Peristiwa Selama Mei 2026

Magetan – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magetan mencatat sebanyak 16 kejadian bencana dan peristiwa selama periode 1–31 Mei 2026. Data ini merupakan hasil rekapitulasi laporan kejadian yang terjadi di berbagai wilayah Kabupaten Magetan.

Dari total kejadian tersebut, bencana tanah longsor menjadi kejadian yang paling dominan dengan 10 kejadian, disusul cuaca ekstrem sebanyak 2 kejadian dan evakuasi serta pertolongan hewan sebanyak 4 kejadian. Sementara itu, tidak tercatat kejadian banjir luapan, kebakaran hutan dan lahan, maupun evakuasi pencarian dan pertolongan manusia selama periode tersebut.

Adapun dampak yang ditimbulkan meliputi 1 kejadian pohon tumbang, kerusakan pada 3 unit rumah, 2 ruas jalan, dan 1 unit jembatan. Tidak terdapat korban meninggal dunia maupun korban luka-luka akibat kejadian bencana dan peristiwa yang terjadi sepanjang bulan Mei 2026.

Sebaran kejadian tercatat di beberapa kecamatan, dengan jumlah kejadian terbanyak berada di Kecamatan Poncol sebanyak 8 kejadian, diikuti Kecamatan Magetan dan Bendo masing-masing 2 kejadian, serta Kecamatan Plaosan, Sidorejo, dan Karas masing-masing 1 kejadian.

BPBD Kabupaten Magetan mengimbau masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi, terutama di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan longsor dan cuaca ekstrem. Masyarakat juga diharapkan segera melaporkan setiap kejadian kebencanaan kepada BPBD atau pemerintah setempat agar penanganan dapat dilakukan secara cepat, tepat, dan terkoordinasi.

Respon Cepat Pagi Hari, BPBD Magetan Evakuasi Ular Piton di Kandang Warga Sidorejo

Kejadian tak biasa terjadi pada Sabtu pagi (9/5/2026), saat seekor ular piton ditemukan di kandang ayam milik warga di Desa Durenan RT 18 RW 4, Kecamatan Sidorejo, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Meski penanganan satwa liar bukan menjadi tugas utama, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magetan tetap sigap merespon laporan masyarakat.

Informasi awal diterima melalui call center BPBD sekitar pukul 06.00 WIB dari warga bernama Bapak Suparno, yang melaporkan adanya ular piton di kandang ayamnya. Ular tersebut diketahui telah memangsa satu ekor ayam, sehingga menimbulkan kekhawatiran bagi pemilik dan lingkungan sekitar.

Menindaklanjuti laporan tersebut, personel BPBD Kabupaten Magetan dari Tim 2 segera menuju lokasi pada pukul 06.15 WIB untuk melakukan pendataan sekaligus evakuasi. Dengan peralatan seadanya dan penuh kehati-hatian, proses penanganan berlangsung cepat.

Hanya dalam waktu kurang dari 20 menit, tepatnya pukul 06.34 WIB, ular piton dengan panjang sekitar 2 meter dan berat kurang lebih 5 kilogram berhasil dievakuasi dalam kondisi aman. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini.

Kegiatan ini melibatkan personel Pusdalops-PB, yakni Wiji dan Resa, serta tim TRC-PB yang terdiri dari Rangga, Sujianto, Jery, Sudarsono, Edi, dan Baharudin.

Meskipun evakuasi satwa liar bukan merupakan tugas pokok BPBD, respons cepat ini menjadi bentuk kepedulian terhadap keselamatan dan kenyamanan masyarakat. BPBD Kabupaten Magetan mengimbau warga untuk segera melaporkan kejadian serupa serta tetap waspada terhadap potensi gangguan satwa liar di lingkungan sekitar.