Mempererat tali silaturahmi di bulan suci Ramadan 1447 H, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magetan menggelar acara buka bersama dan pembagian takjil pada Jumat (13/03/2026). Acara yang dipusatkan di kantor BPBD ini melibatkan berbagai unsur potensi relawan dan anggota Saka Penanggulangan Bencana.
Kegiatan diawali menjelang berbuka puasa dengan pembagian takjil gratis kepada para pengguna jalan yang melintas di depan kantor BPBD Magetan. Aksi ini disambut antusias oleh warga sebagai bentuk kepedulian nyata para personel kebencanaan terhadap sesama.
Menjelang waktu berbuka, acara dilanjutkan dengan sesi tausiyah yang disampaikan oleh Ustadz Suratno Al Hafidz. Dalam ceramahnya, beliau menekankan pentingnya rasa ikhlas dalam setiap tugas kebencanaan sebagai bentuk ibadah.
Puncak acara diisi dengan pemberian santunan kepada anak-anak dari Panti Asuhan Insan Berseri. Penyerahan santunan ini diharapkan dapat memberikan kebahagiaan di bulan yang penuh berkah ini.
Bumi Mageti yang kita cintai dianugerahi bentang alam yang sungguh elok. Pepohonan yang rindang berjajar bak payung hijau raksasa, senantiasa memberikan keteduhan di kala terik matahari menyengat dan menahan laju air di kala hujan turun membasahi pertiwi. Namun, layaknya napas kehidupan manusia, alam pun memiliki siklus dan pergolakan suasana hati.
Ketika langit mulai merajut awan kelabu dan angin berhembus dengan kehendak yang tak lagi terbendung, pepohonan yang tadinya berdiri sebagai pelindung, terkadang terpaksa menyerah pada kejamnya usia dan cuaca. Mereka dapat berubah menjadi dahan-dahan renta yang rapuh dan siap jatuh ke pelukan bumi.
Kami menyadari betul dinamika harmoni alam ini. Tugas kami bukan sekadar menaklukkan bencana, melainkan memahami ritme semesta sembari memasang badan sebagai perisai pelindung bagi masyarakat. Menghadapi cuaca ekstrem yang kerap membawa serta hembusan angin kencang, ancaman pohon tumbang adalah sebuah keniscayaan yang harus kami mitigasi dengan langkah yang terukur, sigap, dan senantiasa penuh empati.
Sebuah duka yang begitu mendalam masih membekas lekat di sanubari kami. Pada hari Minggu, 8 Maret 2026 yang lalu, semesta memberikan ujian yang begitu berat di Jalan Raya Magetan-Ngawi, tepatnya di Desa Bayemtaman, Kecamatan Kartoharjo. Sebuah pohon trembesi tua berdiameter sekitar 70 sentimeter, tak lagi kuasa menahan sapuan angin kencang dan hujan deras yang turun siang itu. Tubuhnya yang gagah roboh secara tiba-tiba, menimpa sebuah keluarga kecil yang tengah berkendara di bawah naungannya mencari jalan pulang.
Dalam peristiwa yang sangat memilukan tersebut, kita harus rela melepas kepergian seorang ananda tercinta, Artha Rizky Rajendra, yang baru menginjak usia 9 tahun. Sementara itu, kedua orang tuanya mengalami luka-luka di tengah hiruk-pikuk evakuasi yang dibasahi rintik hujan. Saat tim BPBD Magetan turun ke lokasi untuk merengkuh para korban dan menyingkirkan dahan yang menutup urat nadi lalu lintas, hati kami ikut gerimis. Melalui untaian kata ini, izinkan kami menundukkan kepala sejenak, mengirimkan doa terbaik dan rasa belasungkawa yang paling tulus kepada keluarga korban. Air mata yang jatuh hari itu adalah pengingat yang menyayat hati bahwa ikhtiar perlindungan ini belum usai dan harus terus disempurnakan.
Tragedi jatuhnya korban jiwa ini menjadi cambuk pengingat bagi kami di BPBD Magetan untuk merapatkan barisan. Ada sejumlah upaya terpadu dan berkelanjutan yang harus terus kami kerjakan agar air mata tak lagi menetes di aspal Magetan karena bencana serupa.
Tentu saja kami tidak melangkah sendirian. Bersama perangkat daerah terkait, kami harus menggiatkan patroli untuk “menyapa” dan memantau kondisi pepohonan di sepanjang jalan protokol. Pohon-pohon yang mahkotanya sudah terlalu berat oleh rimbunnya dedaunan atau dahannya mulai melapuk, harus dipangkas dengan kelembutan. Ini bukanlah bentuk pengrusakan, melainkan cara kami merawat mereka agar tidak tumbang saat badai menari terlalu kencang.
Setiap ruas jalan di Kabupaten Magetan secara harus dipetakan tingkat kerentanannya. Pohon-pohon yang akarnya mulai rapuh terhimpit aspal jalan, atau yang batangnya condong mengancam pengguna jalan, langsung ditandai sebagai prioritas penanganan. Ibarat seorang tabib, kami berusaha mendiagnosis penyakit alam sebelum gejala parah muncul ke permukaan.
Alat mitigasi yang paling tangguh sejatinya bermuara pada kesadaran masyarakat itu sendiri. Kami tiada henti merajut komunikasi dengan warga, mengimbau dengan bahasa yang santun agar tidak menjadikan pohon-pohon besar sebagai tempat berteduh kala hujan badai datang. Biarlah pepohonan itu menahan amuk badai sendirian; kami memohon agar warga senantiasa mencari tempat berlindung di dalam bangunan yang jauh lebih kokoh.
Evakuasi yang cepat, tepat, dan tanggap adalah buah manis dari semangat gotong royong. BPBD merangkul jajaran TNI, Polri, tim relawan, serta aparatur pemerintah desa dalam satu ikatan keluarga besar kesiapsiagaan bencana. Saat musibah datang melintang di jalan raya, tim gabungan ini akan lekas membelah rintangan dan memulihkan kembali denyut nadi kehidupan warga.
Sebagai pelayan masyarakat, kami di BPBD Kabupaten Magetan sangat menyadari bahwa manusia tidak memiliki kuasa untuk menghentikan angin yang berhembus atau menyuruh awan berhenti menurunkan hujannya. Namun, kami berjanji untuk terus berjaga tanpa lelah, menjadi penjaga garis depan dalam merawat keselamatan seluruh warga. Mari kita senantiasa berdampingan dengan alam, menjaga lingkungan dengan cinta kasih, dan selalu mawas diri saat langit mulai meredup.
*)Penulis adalah Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Magetan
Magetan – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magetan menjadi narasumber dalam kegiatan Program Kerja (Proker) Pramuka Rencana Retno Dumilah Program Studi DIII Kebidanan Kampus Magetan, Poltekkes Kemenkes Surabaya, pada Sabtu, 28 Februari 2026 pukul 07.00 WIB. Kegiatan ini diikuti oleh 60 anggota Pramuka Rencana dan bertempat di Kampus Kebidanan Magetan.
Dalam kesempatan tersebut, BPBD Magetan menyampaikan materi bertajuk Manajemen Empati dalam Penanggulangan Bencana dan Mitigasi Bencana. Materi ini menekankan pentingnya pendekatan empati dalam setiap tahapan penanganan bencana, mulai dari pra-bencana (mitigasi), saat tanggap darurat, hingga pascabencana. Empati dinilai menjadi kunci utama dalam memberikan pelayanan dan pendampingan kepada masyarakat terdampak, khususnya kelompok rentan seperti ibu hamil, bayi, lansia, dan penyandang disabilitas.
Selain membahas aspek kemanusiaan, narasumber juga memberikan pemahaman mengenai langkah-langkah mitigasi bencana yang dapat dilakukan di lingkungan kampus dan masyarakat. Peserta dibekali pengetahuan tentang identifikasi potensi risiko bencana, pentingnya kesiapsiagaan, serta koordinasi lintas sektor dalam upaya penanggulangan bencana.
Kegiatan berlangsung interaktif dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang antusias dari para peserta. Melalui kegiatan ini, diharapkan anggota Pramuka Rencana Retno Dumilah dapat meningkatkan kapasitas, kepedulian, serta kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi bencana, sekaligus mampu menjadi agen edukasi kebencanaan di lingkungan kampus maupun masyarakat.
Dengan terselenggaranya kegiatan ini, sinergi antara BPBD Magetan dan institusi pendidikan diharapkan semakin kuat dalam membangun budaya sadar bencana dan memperkuat nilai-nilai kemanusiaan dalam setiap aksi penanggulangan bencana.
MAGETAN – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magetan terus berkomitmen meningkatkan kesiapsiagaan bencana berbasis masyarakat, khususnya di kalangan pelajar. Pada Sabtu (28/2/2026), BPBD menggelar Rapat Koordinasi Satuan Karya Pramuka Penanggulangan Bencana (SAKA PB) bertempat di Ruang Rapat Kantor BPBD Magetan.
Rapat strategis ini dipimpin langsung oleh Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Magetan. Pertemuan ini menjadi momentum krusial untuk mensinkronkan program kerja serta memperkuat sinergi antara BPBD dengan para relawan muda yang tergabung dalam SAKA PB.
Dalam arahannya, Kalaksa BPBD Magetan menekankan pentingnya peran SAKA PB sebagai garda terdepan edukasi bencana di lingkungan sekolah. “Kolaborasi ini bukan sekadar koordinasi rutin, melainkan langkah nyata dalam membentuk generasi yang tangguh dan tanggap terhadap potensi bencana di wilayah Magetan,” ujarnya.
Agenda ini dihadiri oleh jajaran pengurus SAKA PB serta anggota aktif dari berbagai perwakilan sekolah di Kabupaten Magetan. Menariknya, antusiasme terlihat dari hadirnya sejumlah perwakilan sekolah baru yang menyatakan ketertarikannya untuk bergabung dan berkontribusi dalam wadah SAKA PB.
Melalui koordinasi ini, diharapkan anggota SAKA PB memiliki bekal keterampilan dan mentalitas yang kuat dalam mendukung upaya penanggulangan bencana, mulai dari tahap mitigasi, kesiapsiagaan, hingga respons darurat di lapangan.
BPBD Kabupaten Magetan melalui program peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Peningkatan Kapasitas Aparatur di lingkungan BPBD Kabupaten Magetan Tahun 2025. Kegiatan dilaksanakan selama dua hari, mulai 4 hingga 5 Desember 2025, bertempat di Yogyakarta.
Kegiatan Bimtek dibuka secara resmi oleh Plt. Kalaksa BPBD Kabupaten Magetan, Cahaya Wijaya, S.STP., M.Si. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa keberagaman ancaman bencana di Kabupaten Magetan mulai dari banjir, tanah longsor, cuaca ekstrem, hingga gempa bumi mengharuskan kesiapsiagaan aparatur pemerintah semakin diperkuat.
“Berbagai ancaman bencana di Magetan seperti banjir, longsor, cuaca ekstrem, dan gempa bumi mengharuskan kesiapan kapasitas sumber daya manusia yang kuat. Semoga melalui kegiatan ini kita dapat saling bertukar pengetahuan dan upaya pengurangan risiko bencana, termasuk belajar dari pengalaman BPBD Sleman,” ungkapnya.
Usai pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan paparan dari Kalaksa BPBD Kabupaten Sleman, Raden Haris Martapa, S.E., M.T. Beliau menyampaikan berbagai tantangan kebencanaan yang dihadapi wilayah Sleman, di antaranya status Gunung Merapi yang berada pada tingkat Siaga (Level 3), potensi longsor dan likuefaksi di wilayah Prambanan, banjir saat hujan deras di wilayah kota, hingga angin kencang di wilayah barat Sleman.
Dalam paparannya, Haris juga menjelaskan strategi BPBD Sleman dalam penanggulangan bencana, termasuk pembentukan Kelurahan Tangguh Bencana di seluruh wilayah, penugasan tim menjadi tiga kelompok operasional, keberadaan 40 personel TRC dan 8 personel Pusdalops, pemasangan EWS di titik-titik rawan, serta kesiapsiagaan barak pengungsian yang siaga 24 jam.
Pada hari kedua, kegiatan diisi dengan pemaparan materi oleh Bapak Nandar selaku narasumber. Beliau mengulas secara rinci tugas dan fungsi setiap aparatur BPBD Kabupaten Magetan pada masing-masing bidang. Materi difokuskan pada pemahaman peran, alur kerja, serta pentingnya SOP dalam setiap pelaksanaan tugas, sehingga seluruh aparatur mampu bekerja lebih terstruktur, sigap, dan sesuai prosedur.
Melalui kegiatan Bimtek ini, BPBD Kabupaten Magetan berharap kualitas dan kapasitas aparatur semakin meningkat sehingga mampu memberikan pelayanan kebencanaan yang cepat, tepat, dan profesional dalam upaya pengurangan risiko bencana di Kabupaten Magetan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magetan melalui Bidang Kedaruratan dan Logistik menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Tim Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (TRC-PB) Multisektor yang dilaksanakan selama dua hari, mulai Senin hingga Selasa, 10–11 November 2025, bertempat di Grand H.A.P Kintamani Sarangan, Magetan.
Kegiatan ini diikuti oleh anggota TRC-PB Multisektor yang terdiri dari unsur organisasi perangkat daerah (OPD) lintas sektor, di antaranya DPUPR, Dinas Perkim, Bappelitbangda, Kominfo, Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan, Dinas Perhubungan, Dinas Lingkungan Hidup dan Pangan, Dinas Peternakan dan Perikanan, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, Disdikpora, Satpol PP dan Damkar, RSUD dr. Sayidiman, Disperindag, TNI, Polri, PDAM Lawu Tirta, PLN, Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB), serta BPBD Magetan sebagai koordinator pelaksana.
Dalam laporannya, Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Magetan, Eka Wahyudi, S.Sos, menyampaikan bahwa TRC-PB Multisektor memiliki tugas dan tanggung jawab penting dalam pelaksanaan kaji cepat bencana dan dampak bencana pada masa tanggap darurat.
“Kaji cepat ini mencakup penilaian kebutuhan, kerusakan, dan kerugian, yang hasilnya menjadi dasar bagi pemerintah daerah dalam menetapkan status keadaan darurat bencana,” jelasnya.
Selama bimtek berlangsung, peserta mendapatkan pembekalan materi dari tim Direktorat Fasilitasi Penanganan Korban dan Pengungsi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Materi yang diberikan meliputi tahapan penanganan darurat bencana, manajemen upaya penyelamatan dan evakuasi, serta simulasi pengkajian cepat bencana.
Melalui kegiatan ini, diharapkan kapasitas TRC-PB Multisektor Kabupaten Magetan semakin meningkat dalam merespons bencana secara cepat, tepat, dan terkoordinasi lintas sektor, guna mewujudkan Magetan yang tangguh bencana.
Magetan, 4 November 2025 – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magetan melalui Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan melaksanakan kegiatan pembersihan dan pengecekan rutin alat Early Warning System (EWS) di wilayah Kecamatan Poncol pada Selasa (4/11).
Kegiatan dilakukan di tiga titik lokasi, yaitu Desa Gonggang, Kecamatan Poncol, satu unit EWS Tanah Longsor. Desa Cileng, Kecamatan Poncol, dengan satu unit EWS Tanah Longsor. Kelurahan Sarangan, Kecamatan Plaosan dengan satu unit EWS Tanah Longsor.
Pengecekan ini dilakukan untuk memastikan seluruh perangkat EWS berfungsi optimal dalam menghadapi potensi bencana pada musim penghujan yang rawan bencana hidrometeorologi, seperti tanah longsor, banjir, dan banjir bandang.
Hasil dari pengecekan menunjukkan bahwa EWS di Desa Cileng dan Desa Gonggang masih berfungsi dengan baik, namun EWS di Kelurahan Sarangan baterai lemah, kondisi tidak mengisi. Tim juga melakukan pembersihan area sekitar alat agar tidak terhalang oleh kotoran atau vegetasi tumbuhan yang dapat mengganggu kinerja sensor.
Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Magetan, Suparman S,sos menyampaikan bahwa kegiatan pengecekan EWS ini merupakan bagian dari upaya kesiapsiagaan dan pengurangan risiko bencana.
“Kami memastikan seluruh sistem peringatan dini tetap berfungsi dengan baik, apabila dalam pengecekan terdapat kerusakan bisa ditindaklanjuti dengan segera. BPBD Magetan akan terus melakukan pengecekan secara berkala di seluruh titik EWS yang tersebar di beberapa kecamatan, sebagai persiapanan menghadapi musim penghujan.” ujarnya.
BPBD Kabupaten Magetan mencatat terdapat 11 unit EWS yang tersebar di wilayah rawan bencana, meliputi Kecamatan Poncol, Plaosan, dan Kartoharjo. Kesebelas alat tersebut terdiri dari EWS Banjir, Banjir Bandang, dan Tanah Longsor.
Melalui kegiatan ini, BPBD Kabupaten Magetan berharap sistem peringatan dini di seluruh wilayah dapat berfungsi maksimal sehingga masyarakat dapat segera melakukan langkah antisipatif saat terjadi potensi bencana.
BPBD Kabupaten Magetan mengimbau masyarakat agar turut menjaga fasilitas EWS yang telah terpasang dan segera melaporkan kepada BPBD apabila ditemukan kerusakan atau gangguan pada alat tersebut.
Magetan, Selasa (4/11/2025) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magetan melalui Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi melaksanakan kegiatan koordinasi pascabencana cuaca ekstrem di beberapa wilayah terdampak, Selasa (4/11).
Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari kejadian cuaca ekstrem hujan dengan intensitas tinggi hingga sedang disertai angin yang terjadi pada akhir Oktober lalu.
Cuaca ekstrem pada Rabu (22/10/2025) menyebabkan bagian dapur rumah warga roboh di Desa Plangkrongan, Kecamatan Plaosan. Peristiwa serupa juga terjadi pada Kamis (23/10/2025), di mana tanah longsor menyebabkan kandang dan tembok kamar mandi rumah warga jebol. Sementara itu di Kelurahan Alastuwo, Kecamatan Poncol, terjadi tanah longsor yang mengakibatkan talud rumah longsor dan mengancam bangunan di atasnya.
Sebelumnya, BPBD Magetan telah menyalurkan bantuan kebutuhan mendesak berupa terpal untuk mengantisipasi longsor susulan dan bantuan kebutuhan mendesak lain seperti makanan siap saji, selimut dan peralatan kebersihan. Berdasarkan hasil pendataan, penghuni rumah masih dapat menempati bangunan mereka dengan kondisi aman sementara waktu.
Dalam kegiatan monitoring dan koordinasi lapangan bersama perangkat desa, tim dari Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Magetan merencanakan pemberian bantuan material bangunan seperti batu belah, batako, semen, dan pasir. Bantuan tersebut diharapkan dapat mendukung proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana agar rumah warga terdampak kembali layak huni.
Kegiatan ini dipimpin oleh Kepala Seksi Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Magetan, Rahayuningsih, S.Sos dengan melibatkan perangkat desa setempat untuk memastikan proses pendataan dan penyaluran bantuan berjalan tepat sasaran.
“BPBD Magetan berkomitmen untuk terus hadir membantu masyarakat terdampak bencana, agar mereka dapat segera memulihkan kondisi tempat tinggalnya secara aman dan berkelanjutan,” ujarnya.
BPBD Kabupaten Magetan juga menghimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi, terutama tanah longsor dan angin kencang, mengingat intensitas hujan di wilayah Magetan mulai meningkat pada awal November ini.
MAGETAN – BPBD Kabupaten Magetan melalui Bidang Kedaruratan dan Logistik (KL) menghadiri rapat lintas dinas dan instansi secara bersamaan akan dilaksanakan peninjauan lokasi terkait rencana pemasangan bronjong sungai di Desa Mantren, Kecamatan Karangrejo, pada Selasa (4/11/2025).
Kegiatan ini dihadiri oleh Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Magetan Eka Wahyudi, S.Sos, bersama perwakilan dari Dinas Pekerjaan Umum (PU) Magetan, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo, Polsek Karangrejo, dan Koramil Karangrejo.
Peninjauan lapangan dilaksanakan untuk menindaklanjuti dan mengetahui kondisi tebing sungai di Desa Mantren yang mengalami longsor. Longsor tersebut mengakibatkan sebagian tebing sungai mengalami kerusakan cukup parah dan mengancam dua rumah warga di sekitar lokasi.
Sebagai langkah mitigasi bencana, BPBD Magetan bersama instansi terkait menyusun rencana pemasangan bronjong penahan tebing guna mencegah kerusakan lebih lanjut.
Dalam rapat tersebut disepakati bahwa bronjong dan material batu akan disediakan oleh BPBD Magetan serta BBWS Bengawan Solo, sementara itu alat berat (bego) dan peralatan teknis lainnya akan didukung oleh Dinas PU Magetan.
Langkah kolaboratif ini diharapkan dapat mempercepat proses perbaikkan tebing sungai dan meminimalisir potensi bencana yang dapat berdampak pada permukiman warga.
“Melalui sinergi antar lintas instansi ini, diharapkan upaya penanganan longsor dapat berjalan efektif dan berkelanjutan. BPBD Magetan terus berkomitmen melakukan langkah-langkah mitigasi untuk melindungi masyarakat dari ancaman bencana,” ujar Eka Wahyudi, S.Sos, Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Magetan.
BPBD Magetan akan terus memantau perkembangan kondisi di lapangan dan memastikan seluruh proses penanganan berjalan sesuai standar keselamatan. Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen BPBD dalam memperkuat upaya pencegahan dan kesiapsiagaan terhadap potensi bencana di wilayah Kabupaten Magetan.
Sabtu, 11 Oktober 2025 — BPBD Kabupaten Magetan melaksanakan Pengukuhan Satuan Karya (Saka) Pramuka Rintisan Penanggulangan Bencana Masa Bakti 2025–2028. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari satu malam, diawali dengan perkemahan di kawasan Telaga Wahyu, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, pada Jumat, 10 Oktober 2025.
Sebanyak 26 anggota yang terdiri dari karyawan dan karyawati BPBD Kabupaten Magetan secara resmi dikukuhkan sebagai Pengurus Saka Pramuka Penanggulangan Bencana Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Magetan. Pengukuhan dilakukan oleh Ketua Harian Kwarcab Magetan, Saif Muchlissun, S.Sos., M.M.
Pembentukan Saka Pramuka Rintisan Penanggulangan Bencana ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat peran generasi muda, khususnya anggota Pramuka, dalam upaya pengurangan risiko dan mitigasi bencana di Kabupaten Magetan.
Melalui kegiatan ini diharapkan lahir kader-kader muda yang tangguh, sigap, dan peduli terhadap lingkungan sekitar.
Manfaat dan Peran Saka Pramuka dalam Penanggulangan Bencana:
1. Meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan bencana dikalangan pelajar
2. Menumbuhkan jiwa kepemimpinan, kedisiplinan, dan tanggung jawab sosial dalam menghadapi situasi darurat.
3. Menjadi mitra strategis BPBD dalam penyebarluasan informasi kebencanaan kepada masyarakat.
4. Mendorong budaya tangguh bencana di lingkungan sekolah dan masyarakat.
5. Memperkuat jejaring relawan muda yang siap membantu dalam kegiatan tanggap darurat dan rehabilitasi pascabencana.
Dengan terbentuknya Saka Pramuka Rintisan Penanggulangan Bencana ini, diharapkan Magetan semakin tangguh dalam menghadapi berbagai potensi ancaman bencana, serta mampu mewujudkan generasi muda yang siaga, peduli, dan berdaya guna untuk kemanusiaan.